Showing posts with label headline. Show all posts
Showing posts with label headline. Show all posts
Thursday, December 17, 2015
Thursday, January 24, 2013
Student Exchange FE UP Kok Mahal ?
Untuk
pertama kalinya FEUP mengadakan program Student Exchange ke luar negeri.
Tujuannya yaitu University of Malaya (Malaysia).
Pro
dan kontra pun bermunculan. Faktor biaya menjadi kendala mahasiswa untuk
mengikuti program tersebut. Karena biaya yang harus di keluarkan adalah
tanggungan mahasiswa yang direkomendasikan.
Biaya
yang terlalu tinggi membuat minat mahasiswa yang berprestasi mengurungkan
niatnya. Padahal ini merupakan kesempatan baik bagi mereka.
“Biaya
Student Exchange tersebut sudah ditetapkan dari University of Malaya, kalau
tidak percaya bisa di cek websitenya,” tutur Sri Widyastuti, Wadek I FEUP.
Meski
begitu, pihak fakultas sedang berusaha untuk memberikan kemudahan bagi mereka
yang terpilih.
“Kami sebenarnya sedang melakukan nego terhadap yayasan untuk
memberi keringanan kepada mahasiswa yang terpilih,” lanjut Sri Widyastuti..
Namun
menurut Sri, biaya yang dikeluarkan itu digunakan untuk keperluan hidup mereka juga disana. Sehingga tidak perlu lagi
untuk dipermasalahkan.
“Karena
program ini adalah perdana untuk Fakultas Ekonomi, doakan saja sukses, sehingga
kita bisa terus melakukan program ini setiap semester,” lanjutnya lagi.
Selain
biaya, persyaratan awal program ini adalah mahasiswa yang memiliki IPK minimal
3.25. Dan setelah diadakan penyaringan, terdapat 210 mahasiswa yang memenuhi
persyaratan.
Dari
210 nama tersebut, diadakan lagi beberapa tahap seleksi. Diantaranya yaitu seminar
motivasi, TOEFL prediksi, Psikotest, TOEFL institusi, test wawancara, test
presentasi, pertemuan orang tua dan tes kesehatan. Hingga akhirnya terpilih 6 mahasiswa yang lulus
persyaratan tersebut.
Ternyata
untuk TOEFL prediksi dan psikotest juga harus mengeluarkan biaya, yaitu sekitar
ratusan ribu rupiah
Banyak yang Mengundurkan Diri
Dari
pantauan My Campus, ada beberapa mahasiswa yang mengundurkan diri karena
terbentur biaya. Mereka sebenarnya sudah lulus seleksi, namun tidak melanjutkan
lagi setelah mengetahui biayanya sekitar 24 juta rupiah.
Salah
satunya Muhammad Kamal Pasha, ia mengundurkan diri meskipun telah melewati
semua tahap seleksi. “Setelah lulus tes, ada pertemuan dengan orang tua.
Disitu dikasih tau rincian biaya yang harus dikeluarkan, dan setelah dengar
biayanya yang begitu mahal, akhirnya saya memilih untuk mengundurkan diri,”
ujar Kamal kepada Suara Ekonomi.
Menurutnya
lagi, seharusnya para peserta yang lulus diberikan keringanan. “ Ini kan kali
pertama UP menjalin kerjasama dengan universitas luar negeri, kenapa gak
diberikan kemudahan,” lanjutnya.
Persiapan dan Kesempatan untuk
Belajar
Bagi
mereka yang lulus, mungkin persiapan diri dan perbekalan merupakan kendala yang
harus diatasi. “Sejauh ini, aku juga nyiapin diri dengan melatih conversation
dan belajar sedikit buat nambah ilmu,” tutur Sharah Annisa Haraska, mahasiswi
jurusan Manajemen 2011.
Disamping
itu, mempelajari segala sesuatu tentang Malaysia juga sangat penting. “Walau kita
masih serumpun, aku juga cari informasi tentang budaya dan kebiasaan mereka
agar bisa menyesuaikan diri,” lanjut Sharah.
Sedangkan
menurut Nevy Meizar Kusswandini, ini adalah
sebuah tantangan dan pengalaman yang tidak boleh disia-siakan.“
Walau
sebenernya yang diutamakan angkatan 2010, aku bakal terus maju selagi ada
kesempatan yang gak semua orang bisa dapat. Kan kita gak bakal tau kemampuan
kita kalau belum mencoba,” jelas mahasiswi jurusan S1
Akuntansi 2011 ini.
Dukungan
orang tua juga menjadi salah satu faktor penting bagi mereka. Nadya Fadhillah
misalnya, yang mengaku dapat dukungan dari orang tuanya.
“
Tadinya aku mau mengundurkan diri. Tapi orangtua terus support supaya maju
karena mereka mau aku sukses dan punya pengalaman internasional.,” ucap Nadya
Fadhillah, mahasiswi jurusan S1 Manajemen 2010 salah satu peserta Student
Exchange. Ririn dan Hamdillah.
Tuesday, January 22, 2013
Wadek III FKG Universitas Moestopo Siap Mundur
Perjuangan Solidaritas mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) memasuki babak baru. Setelah seminggu menggelar berbagai aksi demonstrasi menuntut pengusutan kasus penganiayaan terhadap lima rekan mereka peserta pertukaran pelajar di Korea Selatan dan menuntut dekan beserta para wakilnya mundur, Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan FKG UPDM (B) dr. Amin Thohari menyatakan siap mundur dari jabatannya.
"Dalam surat pernyataannya kepada mahasiswa, Amin menyebut bahwa dia siap mengundurkan diri dari jabatannya kapan pun jika diminta," kata Ketua BPM FKG UPDM (B) Norman, mengutip surat pernyataan yang dibuat Amin Thohari.
Tidak hanya itu, Senin, 21 Januari lalu, 54 staf tenaga kerja FKG UPDM (B) beserta Wakil Rektor I melakukan pertemuan di gedung kampus FKG Bintaro. Pertemuan tersebut menghasilkan dua sikap yang dibacakan oleh drg. Beya Indriati di depan seluruh mahasiswa FKG.
Berikut sikap yang diambil oleh staf pengajar FKG UPDM (B) yaitu :
1. Pimpinan FKG UPDM (B) yang saat ini menjabat tidak mampu menyelesaikan masalah yang ada di FKG UPDM (B);
2. Kami akan membentuk tim kerja untuk menyelesaikan segala permasalahan FKG UPDM (B).
"Semoga rektor segera menindaklanjuti permasalahan ini sesuai kesepakatan tersebut agar proses belajar mengajar bisa berjalan kembali," ujar Beya. okezone.com
Moestopo Layangkan Email Protes ke Sang Profesor
Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) atau UPDM(B) mengaku langsung menghentikan kerja sama yang telah berlangsung selama empat kali itu. Pemutusan kerja sama yang sudah terjalin baik itu, lantaran adanya tindak kekerasan yang dialami para mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) selama program magang di Korea Selatan.
Selepas kejadian tersebut, pihak kampus langsung mengonsultasikan kasus tersebut dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Seoul Kim Soo Il. Hasilnya KBRI Seoul menyarankan agar ke depan kegiatan magang FKG UPDM (B) dengan Lee Dental Hospital (LDH) Dangjin dihentikan. "Sejak saat ini kegiatan internship di LDH dihentikan sesuai dengan rekomendasi KBRI," demikian pernyataan Humas UPDM(B), Senin (21/1/2013).
Pihak kampus mengaku telah menginformasikan kepada KBRI Seoul mengenai program kerja sama yang dilakukan dengan LDH, ketika pimpinan Yayasan UPDM dan pimpinan UPDM (B) melakukan kunjungan dinas ke Seoul Korea Selatan, pada 8 Mei 2012. "Bahkan pihak UPDM(B) telah meminta bantuan ke KBRI mengenai permasalahan hibah dental unit dari LDH maupun mengenai kerja sama dimaksud," ujarnya.
Mereka mengaku menyesalkan terjadinya aksi kekerasan terhadap lima mahasiswa, yakni CB, CRP, FEP, CM, dan LID oleh Prof. L selama kegiatan magang tersebut. "Pimpinan FKG mengirimkan email kepada Prof. L yang menyesalkan tindakan pemukulan itu dan menarik semua mahasiswa rombongan kelima untuk pulang," tuturnya.
Tidak hanya menghentikan program kerja sama, pihak kampus pun telah melaporkan kejadian tersebut kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) serta Kopertis III. Hal ini, lanjut mereka, menepis anggapan jika pihak kampus seakan lepas tangan terhadap kejadian tersebut.
Untuk mengklarifikasi kejadian tersebut telah dilakukan pertemuan yang dipimpin oleh wakil rektor (warek) III UPDM(B) dan Pimpinan FKG UPDM(B), yakni wakil dekan I dan III dengan mahasiswa yang bersangkutan. Pertemuan tersebut disaksikan oleh ketua BPM dan Senat mahasiswa FKG UPDM(B). okezone.om
Pihak Moestopo: Kami Tidak Pernah Lepas Tangan
Dugaan tindak kekerasan yang diterima oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) atau UPDM(B) saat program magang di Korea oleh seorang profesor setempat, membuat pihak kampus angkat bicara.
Pihak kampus menyatakan selalu melakukan pemantauan terhadap para peserta magang. Bahkan setelah mahasiswanya mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan, pihak kampus langsung menarik para mahasiswa tersebut pulang.
Humas UPDM(B) menjelaskan, kerja sama yang dilakukan FKG UPDM(B) dengan Lee Dental Hospital (LDH) dan No Won Dain (NWD) Dental Hospital dilakukan atas persetujuan yayasan dan rektorat. Kegiatan ini bertujuan memperkaya pengalaman, wawasan, dan keterampilan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di bidang kedokteran gigi yang bersifat sukarela sebagai nilai tambah.
Kegiatan yang telah berlangsung selama empat kali itu, lanjut mereka, terbukti membawa nilai positif dan tidak pernah dijumpai adanya tindak kekerasan terhadap mahasiswa peserta program tersebut. "Hal tersebut dibuktikan oleh pimpinan Yayasan, Rektorat dan FKG saat berkunjung ke LDH dan NWD DH pada 9 Mei 2012 yang menjumpai mahasiswa rombongan 4 dalam kondisi baik dan menyatakan kegiatan tersebut sangat bermanfaat," ujar Humas UPDM(B), Senin (21/1/2013).
Ketika terjadi kasus kekerasan pada rombongan kelima yang dialami oleh CB, CRP, FEP, CM, dan LID, pihak kampus mengaku tidak pernah lepas tangan. Pasalnya mereka selalu memantau para peserta lewat Facebook maupun pesan singkat atau SMS.
"Setelah mendengar keluhan adanya pemukulan, pimpinan FKG segera mengonsultasikan kepada pihak rektorat dan yayasan. Selanjutnya pimpinan FKG mengirimkan email kepada Prof. L atas tindakan pemukulan dan menarik semua mahasiswa rombongan lima untuk pulang," paparnya. okezone.com
Pihak kampus menyatakan selalu melakukan pemantauan terhadap para peserta magang. Bahkan setelah mahasiswanya mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan, pihak kampus langsung menarik para mahasiswa tersebut pulang.
Humas UPDM(B) menjelaskan, kerja sama yang dilakukan FKG UPDM(B) dengan Lee Dental Hospital (LDH) dan No Won Dain (NWD) Dental Hospital dilakukan atas persetujuan yayasan dan rektorat. Kegiatan ini bertujuan memperkaya pengalaman, wawasan, dan keterampilan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di bidang kedokteran gigi yang bersifat sukarela sebagai nilai tambah.
Kegiatan yang telah berlangsung selama empat kali itu, lanjut mereka, terbukti membawa nilai positif dan tidak pernah dijumpai adanya tindak kekerasan terhadap mahasiswa peserta program tersebut. "Hal tersebut dibuktikan oleh pimpinan Yayasan, Rektorat dan FKG saat berkunjung ke LDH dan NWD DH pada 9 Mei 2012 yang menjumpai mahasiswa rombongan 4 dalam kondisi baik dan menyatakan kegiatan tersebut sangat bermanfaat," ujar Humas UPDM(B), Senin (21/1/2013).
Ketika terjadi kasus kekerasan pada rombongan kelima yang dialami oleh CB, CRP, FEP, CM, dan LID, pihak kampus mengaku tidak pernah lepas tangan. Pasalnya mereka selalu memantau para peserta lewat Facebook maupun pesan singkat atau SMS.
"Setelah mendengar keluhan adanya pemukulan, pimpinan FKG segera mengonsultasikan kepada pihak rektorat dan yayasan. Selanjutnya pimpinan FKG mengirimkan email kepada Prof. L atas tindakan pemukulan dan menarik semua mahasiswa rombongan lima untuk pulang," paparnya. okezone.com
Monday, January 21, 2013
5 Mahasiswa RI Disiksa Saat Magang di Korsel
Pekan lalu, mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Univ. Prof. Dr. Moestopo (Beragama) yang mengatasnamakan Solidaritas FKG Moestopo Bersatu mengadukan nasib ke Komnas HAM. Mereka mengadukan nasib kelima temannya yang mengalami penyiksaan saat melakukan co-ass di Korea Selatan oleh seorang oknum, yang disebut Professor Chang Kyu Lee, selama mereka mengikuti program magang (internship) di Dang Jin Lee Dental Hospital, Korea Selatan.
Seperti dikutip dari keterangan tertulis Solidaritas FKG Moestopo Bersatu, Senin (21/1/2013), kelima mahasiswa tersebut pada 27 Juli 2012 sudah mendatangi Kedutaan Besar Republik Indonesia – Seoul, Korea Selatan. Mereka mengadukan keresahan dan perlakuan kasar yang mereka terima.
Kelima mahasiswa itu, yakni CB, CRP, FEP, CM, dan LID. Mereka merupakan rombongan peserta magang yang kelima (batch 5) dari perjalanan kerjasama antara FKG Univ. Prof. DR. Moestopo (Beragama) dengan Perguruan Tinggi Kedokteran Gigi Universitas Dankook (College of Dentistry, Dankook University). Mereka ditempatkan di dua dental hospital yaitu Lee Dental Hospital di lantai 9 224-4 JinWon B/D DangJin, ChungNam, Seoul dan No Won Dain Dental Hospital – Wow Shopping Centre di lantai 5, Sang Ge Dong 292-1, No Won Gu, Seoul, dan bukannya di Dankook University yang notabene pelaku kerjasama.
Mereka berlima tiba di Seoul, Korea Selatan pada 17 Juni 2012. Awalnya, mereka telah dijanjikan mendapat tempat tinggal dan makan siang, namun kenyataannya hanya tersedia 1 kamar tidur berukuran 3 x 2,5 meter untuk berlima dan pernah tidak diberi makan siang selama beberapa hari. Jadwal kerja peserta magang, yaitu dari hari Senin sampai dengan hari Sabtu.
Hari Senin, Kamis dan Jumat pukul 08.00 – 18.00, hari Selasa dan Rabu pukul 08.00 – 20.00, hari Sabtu pukul 08.00 – 14.00 waktu setempat. Mahasiswi diberikan waktu istirahat makan siang selama satu jam, selebihnya diharuskan bekerja tanpa diperbolehkan duduk sama sekali.
Menurut kesaksian yang diungkapkan kelima mahasiswi tersebut, mereka mengalami perlakuan kasar dari Professor Chang Kyu Lee yang dialami selama kurang dari tiga bulan masa magang. Siksaan yang dimaksud antara lain tendangan yang keras berulang kali, menyentil dahi secara keras, memukul kepala dengan kaca mulut, melempar alat ke mahasiswi, menyemprot air dari dental chair, pemukulan dengan kepalan tangan berulang kali sampai benjol dan menimbulkan rasa nyeri kepala selama berhari-hari, memukul punggung dengan keras, melempar suction (penyedot ludah) ke mahasiswi.
Selain itu, mereka juga mengalami kekerasan verbal yang dilontarkan berulang kali seperti “stupid, idiot, piggy head, dan monkey”, caci maki yang menyinggung rendahnya kemampuan mahasiswa yang berasal dari negara Indonesia. Mereka juga pernah disekap di ruang loker dengan tidak diberikan makan siang selama tiga hari.
Mereka juga merasa adanya diskriminasi perlakuan antara mahasiswi magang dengan dental hygienist (sebutan untuk perawat) ketika melakukan suatu kesalahan, hingga Prof. Lee diduga sengaja menyebarbracket gigi ke lantai dan para mahasiswi disuruh mencari dan memungut benda kecil tersebut. Setiap hari mereka juga diwajibkan untuk membersihkan alat-alat gigi, menyapu, dan mengepel ruangan.
Rasa takut dan tertekan yang dialami kelima mahasiswa membuat mereka memutuskan untuk meninggalkan klinik pada 24 Juli 2012 tanpa sepengetahuan Professor Chang Kyu Lee dan staff lainnya.
Mereka membawa barang-barang seperlunya dari rumah tempat mereka tinggal selama di Seoul, lalu mengadu ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Seoul, pada 27 Juli 2012. KBRI Seoul menjadi tempat tinggal sementara mereka sekaligus membantu proses kepulangan mereka ke Indonesia sampai selesai. Menurut keterangan tertulis Solidaritas FKG Moestopo Bersatu kepada Okezone, Senin (21/1/2013), mereka pulang tanpa bantuan dari pihak FKG UPDM(B).
Keluarga dari kelima mahasiswi juga langsung dihubungi. KBRI Seoul pun menghubungi Dr. Anastasia Susetyo Tri R., drg, M.Kes selaku penanggung jawab program, tetapi nomor selulernya tidak dapat tersambung.
Pada 28 Juli 2012, Koordinator Fungsi Konsuler yang didampingi staff, juga kelima mahasiswi FKG UPDM(B) mendatangi Lee Dental Hospital dan menemui Professor Lee untuk meluruskan masalah sekaligus berpamitan.
Professor Lee menyampaikan bahwa ia adalah pribadi yang keras dan berdisiplin tinggi terhadap staff dan mahasiswanya. Budaya negeri Korea Selatan memang terkenal kental dengan sikap disiplin dan pekerja kerasnya. Namun, Solidaritas FKG Moestopo Bersatu sangat menyangkan terjadinya kekerasan fisik dari seorang pendidik. Sebab, tragedi itu menimbulkan trauma bagi peserta didik.
Kontras dengan kelima peserta di atas, dua peserta lainnya yang merupakan alumni FKG UPDM(B), yaitu drg. Dhatu Anggraini Dangkeng dan drg. Farny Agnes Zulgayati mendapatkan perlakuan baik dan bersahabat saat magang di No Won Dain Dental Hospital.
Pelaksanaan magang peserta rombongan kelima di dua tempat tersebut serentak dimulai pada 17 Juni 2012, dengan durasi program selama tiga bulan. Pulangnya lima mahasiswi co-ass dan dua alumni Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. DR. Moestopo (Beragama) kembali ke Indonesia menjadi rombongan terakhir dari program kerjasama tersebut.
Menurut Solidaritas FKG Moestopo Bersatu, kasus tersebut hingga kini masih belum mendapat pertanggungjawaban dari pihak fakultas dan universitas, untuk segera menyelesaikannya. okezone.com
Thursday, January 17, 2013
BMKG : Aneh, Hujan Hanya Terjadi di Jabodetabek
Badan Meterorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat intensitas curah hujan di Jakarta sangat tinggi. BMKG menegaskan, banjir yang melanda Jakarta kali ini tidak disebabkan karena siklus lima tahunan.
Trisakti Tergenang Banjir 1 Meter
Banjir satu meter menggenangi kampus Universitas Trisakti, Grogol,
Jakarta Barat, Kamis, (17/01/2013). Banjir tersebut menggenangi hampir seluruh
Fakultas. “Hampir 70 persen gedung kampus terendam banjir,” kata Yose (43), Satpam
Trisakti.
Friday, December 21, 2012
Ujian Susulan, Rp 250.000,- ?
UAS akan dilaksanakan pada 2-15 Januari 2013. Bagi Mahasiswa yang tidak bisa mengikuti ujian tersebut
akan diadakan ujian susulan. Namun, Sesuai Surat Keputusan Dekan Nomor :
016/SK/D/FE/VII/2012, dikenakan biaya ujian susulan sebesar Rp 250.000,-.
“Tujuan ujian susulan dikenakan biaya
Rp 250.000,-, supaya mahasiswa tidak memanfaatkannya sebagai alternatif
mendapatkan nilai yang lebih baik ,“ ujar Ir. Iha Haryani Hatta, SE, MM, Wakil
Dekan II saat ditemui setelah rapat.
Subscribe to:
Comments (Atom)






